Senin, 16 Maret 2020

pengertian,penyebab.ciri dan cara mengatasi autism spectrum




ANAK AUTISM SPECTRUM DISORDER


Pengertian autism spectrum disorde

            Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan pada anak yang ditandai oleh hambatan dalam berinteraksi sosial, komunikasi, serta memiliki pola perilaku dan minat yang terbatas dan berulang. Hambatan perkembangan ini dapat terlihat sebelum anak berusia 3 tahun sehingga diagnosis autisme sudah dapat ditegakkan.

Penyebabab  autism spectrum
  • Jenis kelamin. Anak laki-laki 4 kali lebih berisiko mengalami autisme dibanding anak perempuan.
  • Faktor genetik.  Sekitar 2-18% orang tua dari anak penderita autisme, berisiko memiliki anak kedua dengan gangguan yang sama.
  • Kelahiran prematur. Bayi yang lahir pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang.
  • Terlahir kembar. Pada kasus kembar tidak identik, terdapat 0-31% kemungkinan autisme pada salah satu anak memengaruhi kembarannya juga mengalami autisme. Pengaruh autisme makin besar pada anak yang terlahir kembar identik, yaitu sekitar 36-95%.
  • Usia. Semakin tua usia saat memiliki anak, semakin tinggi risiko memiliki anak autis. Pada laki-laki, memiliki anak di usia 40an, risiko memiliki anak autis lebih tinggi 28%. Risiko meningkat menjadi 66% pada usia 50-an. Sedangkan pada wanita, melahirkan di atas usia 40an, meningkatkan risiko memiliki anak autis hingga 77% bila dibandingkan melahirkan di bawah usia 25 tahun.
  • Pengaruh gangguan lainnya. Beberapa gangguan tersebut antara lain distrofi otot, fragile X syndrome, lumpuh otak atau cerebral palsy,dan sindrom Down.
  • Pajanan selama dalam kandungan. Konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan (terutama obat epilepsi) dalam masa kehamilan, dapat meningkatkan risiko anak yang lahir menderita autisme.
     
Ciri-ciri autism spectrum disorder

     
1.Perkembangan yang tidak seimbang
Perkembangan yang tidak seimbang pada bayi atau anak autis, dikarenakan sistem motorik anak mengalami gangguan, sehingga perkembangan otaknya pun tidak bisa berkembang dengan baik sebagai mana mestinya.
2. Menyukai kegiatan yang mengulang
Coba Anda perhatikan kegiatan si kecil, jika ia menyukai kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan dalam frekuensi yang sangat tinggi, kemungkinan ia mengidap autis. Misalnya sering melompat, apalagi jika kegiatan ini dilakukan dimanapun dan kapanpun. Karena ciri-ciri anak autis sejak bayi apabila si Kecil menyukai suatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang.
3. Gangguan komunikasi
Salah satu ciri yang mudah untuk Anda kenali pada anak autis adalah dari gaya bicaranya. Anak autis memiliki gaya bicara yang khas yaitu gagap, terlambat dan kurang bisa mengerti kata-kata yang sering digunakan oleh orang-orang pada umumnya.
4. Membenci suara bising
Sebaiknya jika sedang melakukan pembicaraan dengan anak autis jangan menggunakan nada dan intonasi yang keras. Karena salah satu tanda Anak autis adalah tidak menyukai suara yang terlalu keras dan bising
5. Tidak suka kontak fisik
Anak autis juga tidak menyukai jika adanya kontak fisik, apalagi dengan orang yang tidak ia kenal. Jika anak autis disentuh, maka ia cenderung menghindar dan bersembunyi.
6. Emosi yang tidak stabil
Anak yang mengalami autis juga tidak bisa mengontrol dan mengendalikan emosi mereka.
7. Asyik dengan dunianya sendiri
Anak autis memiliki dunianya sendiri dan hanya dia yang tahu bagaimana cara menikmati dunianya tersebut.
8. Tidak mau melakukan kontak mata
Anak autis akan menghindari kontak mata secara langsung pada lawan bicaranya bahkan ia akan cendrung menunduk ke bawah.
Cara mengatasi anak autism
Terapi wicara
Sebagian besar anak dengan autisme mengalami kesulitan berbicara. Pada kasus lain, mereka bisa berbicara, tapi tidak mampu berinteraksi atau berkomunikasi secara normal dengan orang lain. Di sinilah pentingnya peranan terapi wicara.
Terapi okupasi
Terapi okupasi digunakan untuk memperbaiki perkembangan motorik halus pada anak dengan autis yang memang banyak mengalami keterlambatan.
Terapi perilaku
Umumnya anak-anak dengan autis merasa sangat sensitif kepada cahaya, suara, dan sentuhan. Ahli terapi akan membantu menemukan latar belakang perilaku tersebut untuk kemudian memberikan solusi secara spesifik.
Terapi pendidikan
Program ini melibatkan tim pakar yang menerapkan beragam aktivitas yang meningkatkan kemampuan komunikasi, sosial, dan tingkah lakunya. Umumnya anak-anak dengan autisme dapat berkembang dengan program pendidikan yang terarah dan terstruktur dengan baik.
       



 Daftar Pustaka



1 komentar: